5 Pemain yang Jadi Panutan Anthony Martial

Direkrut menjadi striker Manchester United di usia 19 tahun, Anthony Martial masih meniti kesuksesan di Premier League. Striker Perancis itu bergabung ke Old Trafford pada musim 2015 menghadapi tantangan dan beban tak ringan. Digadang-gadang sebagai hot prospect pemain muda luar biasa saat bermain di AS Monaco, Martial adalah tipikal penyerang winger modern dengan teknik mengolah bola cepat dan ciamik serta lihai menjebol gawang lawan.

 Pergantian beberapa manajer mempengaruhi posisinya dalam line-up pemain. Martial pun sempat mengalami friksi di musim keduanya bersama manajer Jose Mourinho. Meski hubungan keduanya membaik membuat Martial lebih mendapat kesempatan bermain, tapi itu selaras beban dan ekspektasi yang menanti sumbangsih golnya.

Eks pemain Monaco itu tak gentar menopang beban. Untuk itu, ia pun angkat bicara soal beberapa pemain yang dianggapnya sebagai “pahlawan” dan role model sepak bola.

Pemain berusia 22 tahun ini mengatakan bahwa gaya mainnya sekarang ini tak lepas dari sejumlah pemain yang dianggapnya sebagai pahlawannya. Dari tanah airnya ada Thierry Henry, Zinedine Zidane dan Anelka.

“Untuk pahlawan Prancis saya, saya punya Thierry Henry, tentu saja, dan kemudian Zinedine Zidane, Zizou. Mereka yang terbaik. Saya mengagumi para striker, para pengguna nomor 10,” tuturnya pada situs resmi MU.

Selain itu ia juga mengaku kagum pada mantan penyerang Arsenal yakni Nicolas Anelka. Anelka sendiri juga berasal dari Prancis.

“Pemain lain yang sangat saya sukai adalah Nicolas Anelka. Ia adalah pemain hebat, cepat dan punya banyak skill,” pujinya.

Selain dari negaranya, Martial juga menyebut dua nama pahlawan lain yang berasal dari Brasil, dua legenda Samba yakni Ronaldo dan Ronaldinho.

“Dua pahlawan besar saya adalah orang Brasil: Ronaldinho dan Ronaldo karena mereka memiliki sihir di kaki mereka! Hampir setiap pemain dari kelompok umur saya saat itu mungkin akan memberi tahu Anda hal yang sama,” ujar Martial.

“Saya pernah menonton video semua orang! Henry, Ronaldo – Saya akan menonton setiap penyerang di internet,” lanjutnya.

Jalan dan karier Martial memang masih panjang. Dengan potensi di usianya, ia masih harus melalui beberapa tahapan jika ingin menyamai puncak raihan para idola pahlawannya, baik di level klub maupun timnas.

Legenda MU Tuding Jose Mourinho Belum Temukan Komposisi Terbaik

Performa Manchester United di musim 2018/19 terbilang kurang memuaskan. Figur manajer Jose Mourinho pun di bawah sorotan suryakanta bukan hanya oleh fans, tapi juga beberapa legenda klub. Satu yang belakangan cukup vokal mengkritisi Mourinho adalah Paul Ince. Eks gelandang Manchester United itu menuding Jose Mourinho masih kebingungan dalam menentukan starting XI terbaik Setan Merah.

 Datang di musim 2016, Mourinho semestinya sudah memiliki cukup waktu membangun tim dan mengembangkan potensi yang dimiliki United. Namun, hasilnya seakan sebaliknya. Atmosfer kurang kondusif justru menghampiri jelang awal musim ketika United menjalani tour pra-musim di AS. Kala itu Jose Mourinho justru memicu konflik dengan beberapa pemain dan bahkan dengan petinggi klub, Ed Woodward.
Meski perlahan Jose bisa memperbaiki suasan dan mulai mengurangi kontroversi statement di depan media, namun penampilan Setan Merah tak kunjung membaik. Kemenangan atas Juventus di ajang Liga Champions bisa dianggap sebagai sebuah kemenangan ‘besar’. Sayangnya, usai jeda internasional, United kembali stagnan ketika hanya bermain imbang 0-0 dengan Crystal Palace di Old Trafford. Tak pelak, suara sumbang para suporter semakin gregetan. MU kini turun ke posisi tujuh klasemen sementara EPL dengan raihan 21 poin dari 13 pertandingan.

Paul Ince lantas menilai United memang belum menemukan kerangka tim setidaknya pemain tetap di tiap lini. Wajar, mungkin hanya posisi penjaga gawang saja yang permanen dipegang kiper David De Gea. Deretan lini pertahanan pun kerap mengalami rotasi. Smalling jadi paling reguler. Kadang bertandem dengan Baily, namun belakangan Mou memilih Lindelof. Posisi full back pun demikian. Ashley Young mengisi pos kanan yang sebelumnya ditempati kapten Antonio Valencia.
Ince kemudian mempredksi bahwa Mourinho pasti nanti akan melakukan perubahan lagi dalam formasi pemainnya. Hal ini disebutnya terjadi karena menurutnya manajer asal Portugal itu masih belum bisa menemukan komposisi starting XI terbaiknya di MU.

“Ia mengubahnya karena ia tidak yakin apa starting XI terbaiknya. Ia telah mengubahnya berkali-kali,” cetusnya pada Match of the Day 2.

“Setelah tiga tahun, dan dana yang ia habiskan, ia masih tidak tahu. Sebagai seorang manajer, untuk mendapatkan kohesi dan konsistensi, Anda harus mengatakan ini adalah XI yang saya percayai, kecuali ada unsur cedera dan skorsing,” cetusnya.
“Jika mereka mulai melakukan itu, mereka mungkin mulai bisa tampil lebih baik,” cetusnya.

Paul Ince mengaku heran mengapa Jose Mourinho menempatkan Marouane Fellaini di lini serang sementara Alexis Sanchez tak ditempatkan di posisi yang semestinya di pertandingan kontra Crystal Palace.

Pergantian pemain inilah yang akhirnya dikritik oleh Ince. Ia heran mengapa Mourinho lebih memilih memainkan Fellaini di depan ketimbang Sanchez.

“Para penggemar mencemooh pada akhir pertandingan dan itu tidak seperti Manchester United. Kita sedang berbicara tentang United, tanpa mengurangi rasa hormat ke Palace, tetapi membawa Fellaini lebih dahulu ketimbang Sanchez, apa rencananya?” katanya pada Match of the Day 2.

“Ketika United tidak dapat mencetak gol, masukkan Fellaini, pakai strategi bola-bola panjang, Palace sudah siap untuk itu. Mereka mengandalkan keberuntungan,” cetusnya.

MU akan berhadapan melawan Young Boys di Liga Champions. Setelah itu MU akan bertarung melawan Southampton. Pertandingan ini akan dihelat di St Mary’s Stadium.